Demokrasi Sistem Batil akan Melahirkan Pemimpin yang Merusak dan Menyengsarakan Rakyat

Demokrasi Sistem Batil akan Melahirkan Pemimpin yang Merusak dan Menyengsarakan Rakyat
Demokrasi Sistem Batil akan Melahirkan Pemimpin yang Merusak dan Menyengsarakan Rakyat
loading...
Gambar: Ilustrasi
Oleh: Restu Febriani

Mediaoposisi.com-Rabu, 17 April 2019 Indonesia mengadakan pesta demokrasi. Pesta demokrasi merupakan istilah yang digunakan untuk ajang 5 tahunan dalam memilih presiden maupun anggota dewan. Dan, ini merupakan sejarah baru dalam pesta demokrasi di Indonesia. Karena untuk pertama kalinya, pemilihan anggota legislatif dan pemilihan presiden diselenggarakan serentak. Tidak dipungkiri, di tahun ini adalah pesta demokrasi yang paling banyak mengadakan sandiwara dan menelan korban sampai ratusan jiwa bahkan ada yang bunuh diri akibat depresi dan keguguran.

Bayangkan saja, selama proses pemilu berlangsung hingga tanggal 24 April, tercatat 326 petugas pemilu meninggal dunia; dengan rincian 253 berasal dari jajaran KPU, 55 dari bawaslu, dan 18 personel polri (jawa Pos.com). Penyebabnya bermacam-macam. Ada yang karena kelelahan ada juga karena kecelakaan dan yang lebih memprihatinkan karena bunuh diri, akibat beban pekerjaan yang begitu berat. Belum lagi, kecurangan-kecurangan yang bisa saja terjadi.

Hal semacam ini wajar terjadi dalam sistem demokrasi. Karena, demokrasi adalah sistem yang berasal dari akal manusia, yang lahir dari ideologi kapitalis-sekuler (memisahkan agama dari kehidupan) dengan prinsip dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat, walaupun pada kenyataannya tidak sesuai. Ini terbukti hampir di seluruh negeri yang menerapkan sistem ini, rakyatnya jauh dari kata sejahtera. Dan bisa dilihat, hanya segelintir orang saja yang merasakan hidup sejahtera yaitu para kapital (pemilik modal).

Perlu dipahami demokrasi adalah sistem pemerintahan mayoritas. Artinya, pemilihan penguasa dan anggota dewan perwakilan diselenggarakan berdasarkan suara mayoritas para pemilih. Oleh karena itu, suara mayoritas adalah ciri yang menonjol dalam sistem demokrasi dan dijadikan tolak ukur hakiki dalam mengambil suatu keputusan. Maka, pemilu menjadi satu-satunya jalan untuk memilih pemimpin. Pemikiran ini bertentangan dengan syari’at Islam dan aqidah Islam.


Allah berfirman:
“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah." (Al-An’am/6: 57)

“Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu 
adalah orang-orang kafir." (Al-Maidah/5: 44)

Apakah ini yang diharapkan oleh negeri yang mayoritas muslim tapi sangat mengagungkan sistem kufur? Yang sudah jelas rusak dan merusak, bobrok, bahkan merugikan masyarakat. Keadilan seakan tak lagi dipedulikan dan bisa dibungkam dengan uang bahkan giuran jabatan.

Demokrasi adalah sistem yang gagal (failed system); gagal sedari konsep awalnya, gagal dalam proses penerapannya, dan gagal dalam mencapai tujuannya yang utopis. Sungguh, tidak layak umat Islam sebagai khayru ummah masih menerapkan sistem batil ini yang tidak mampu menjaga umat demi keamanan dan kesejahteran. Maka dari itu, tinggalkanlah demokrasi, sudah saatnya umat kembali pada Islam! Dengan Syariah dan Khilafahnya!

Karena sejatinya, yang kita butuhkan adalah bangkitnya kembali Khilafah Rasyidah yang mampu menyelesaikan semua permasalahan umat. Yang mampu menerapkan semua sistem Islam secara kaffah dalam semua aspek kehidupan.

Tanpa khilafah, niscaya banyak sekali hukum syariah yang tidak diterapkan dalam kehidupan, sebagaimana saat ini.

Karena itu, kita semua harus berjuang menegakkan syariah dan khilafah. Karena hanya dengan tegaknya khilafah, ketaatan pada syariah secara kaffah dapat diwujudkan dan Islam Rahmatan lil’allamiin dapat dirasakan semua umat. WalLahu’alam. [MO/ms]
loading...
loading...