Era Digital dan Budaya Permisif Lifestyle Generasi Milenial

Era Digital dan Budaya Permisif Lifestyle Generasi Milenial
Era Digital dan Budaya Permisif Lifestyle Generasi Milenial
loading...
Gambar: Ilustrasi
Oleh: Novia Roziah

Mediaoposisi.com-Pemuda merupakan garda terdepan dalam proses kemajuan bangsa. Segala potensi yang ada pada pemuda menjadi penentu kualitas bangsa Indonesia di masa depan. Dari sisi jumlah, data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017 menunjukkan, jumlah anak muda di Indonesia mencapai 24,27 persen total penduduk. Itu berarti satu dari 4 empat orang di Indonesia berusia antara 16 sampai 30 tahun.

Generasi Milenial dengan segudang potensi yang dimilikinya harus dapat menjadi pionir perubahan. Generasi milenial saat ini merupakan generasi penghuni internet yang sudah semestinya bukan hanya sebagai pengguna pasif namun harus menjadi pengguna aktif.

Menurut ketua Komisioner PMII STITTA Muhammad Daimul Ihsan,”Separuh dari kehidupan manusia, khususnya pemuda sekarang ini, di habiskan di dalam dunia media. Baik whatsapp, instagram, facebook. Twitter dan yang lainnya.” Saat ini, internet of things telah mengubah gaya hidup  (baca: lifestyle) generasi milenial.

Sejalan dengan pendapat Daimul Ihsan, Bupati Jember Faida juga menyampaikan pendapatnya terkait peran pemuda di era digital saat ini. Menurut Faida, kehadiran pemuda dalam membangun peradaban suatu bangsa akan menentukan masa depan sebuah negara. Hal ini disampaikan pada saat Faida menghadiri acara musyawarah daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah di aula Kampus Universitas Muhammadiyah Jember. (suaraindonesianews, 7/1/19)

Media Sosial Wujud Eksistensi Bagi Generasi Milenial
Generasi milenial seolah menemukan tambatan hatinya. Keberadaan media sosial telah melahirkan banyak selebgram dan youtuber yang memiliki penghasilan tak kalah dengan para pengusaha. Contoh saja youtuber muda, Atta Halilintar. Dengan jumlah subscriber mendekati angka 8 juta, tentu saja hal ini mempermudah dia untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah.

Di satu sisi, eksistensi media sosial sebagai salah satu simpul edukasi publik yang banyak diakses generasi milenial menjadi tempat untuk menuangkan kreativitas. Namun di sisi lain, disadari atau tidak, media sosial justru menjadi tools untuk mengaruskan tata kehidupan permisif dan menawarkan lifestyle hedonis di kalangan milenial.

Sayangnya, sebagai native digital, generasi milenial begitu mudah mengakses konten digital tanpa hambatan. Industri digital yang hanya mementingkan viral dan mengejar keuntungan, tak lagi memperhatikan dampak negatif yang ditimbulkan kepada masyarakat utamanya kalangan generasi.

Terdapat beberapa dampak negatif dari digitalisasi. Pertama, mudahnya mengakses konten porno. Ketika mengakses dunia digital, akan banyak bertebaran konten yang mengandung pornografi dan pornoaksi yang begitu mudah untuk diakses. Tontonan di berbagai linimasa justru menjadi tuntunan saat mencapai viral dan bertahan di ruang virtual.

Kedua, lahir generasi pemalas. Masifnya digitalisasi di kalangan generasi muda, memberikan pengaruh bagi gaya hidup mereka. Dengan begitu mudahnya mereka mendapatkan uang. Yang mereka hasilkan dari membuat konten hiburan, challenge tak berfaedah, prank tak bermutu, katanya sih kreativitas.

Tak peduli meski kontennya tak layak untuk disajikan. Parahnya, generasi kita merasa bangga saat mampu menirukan konten-konten tersebut. Rasanya tak berlebihan jika dikatakan bahwa industri digital saat ini turut andil dalam mengimpor budaya liberal yang merusak generasi.

Sudah selayaknya memantik kekhawatiran berbagai pihak. Di satu sisi, kemajuan teknologi memberi kemudahan dalam mengakses banyak hal. Di sisi lain, sistem saat ini tak berpikir mengenai dampak negatif yang ditimbulkan. Pola pikir kapitalistik telah menumpulkan nalar untuk sekadar peduli pada generasi penerus bangsa. Keuntungan materi telah mengaburkan daya kritis mereka mengenai cost social yang harus dibayar bangsa ini akibat rusaknya generasi.

Jika hal ini terus berlanjut maka generasi muda akan kehilangan identitasnya. Generasi muda menjadi generasi instan yang jauh dari berpikir politis dan solutif. Krisis multidimensi pun tak terelakkan. Mulai dari krisis kemanusiaan hingga lingkungan. Visi generasi sebagai agen perubahan akan terkikis habis. 

Menghindari Krisis Pada Generasi
Mengembalikan fungsi media sosial sebagai sarana edukasi harus dijadikan agenda utama. Karena dalam pandangan Islam, teknologi itu bebas nilai. Termasuk di dalamnya keberadaan media sosial. Namun, akan menjadi salah ketika media sosial justru membuat penggunanya melupakan hakikat diri dan tujuan penciptaannya.

Sudah selayaknya, generasi milenial tidak sekedar memilki hard skill berupa kepandaian dalam menggunakan media sosial. Namun, harus diimbangi dengan soft skill berupa ketaqwaan. Selain itu kontrol masyarakat terhadap berbagai materi yang disajikan, sangat diperlukan serta pentingnya peran negara dalam menjalankan tugasnya sebagai pengendali kebijakan.

Di sinilah peran negara begitu penting dalam menjaga identitas generasi sebagai agen perubahan sekaligus Hamba Tuhan. Untuk mewujudkan visi generasi menjadi manusia yang cerdas sekaligus bertaqwa. Wallahua’lam bishhowab [MO/ms]
loading...
loading...