Ramadhan Berkah Dengan Islam Kaffah

Ramadhan Berkah Dengan Islam Kaffah
Ramadhan Berkah Dengan Islam Kaffah
loading...

Oleh : Normaliana, S. Pd

         Mediaoposisi.com- Ramadhan adalah bulan istimewa,  bulan agung dan suci yang penuh ampunan  Allah Swt. Seluruh umat islam dimanapun berada tentunya akan merasa gembira menyambut ramadhan tiba.  

Saat ramadhan mesjid akan kembali terisi penuh dengan kegiatan tarawih, tadarus alqur’an, ceramah agama, dan  segala hal yang terkesan serba agamis. Para pedagang dan pengusaha juga berlomba-lomba memanfatkan kehadiran Ramadhan, seolah menyambut janji Rasulullah SAW bahwa Ramadhan bulan penuh berkah dengan peluang tambahan rezeki berlimpah dari Allah.

Dan dipenghujung Ramadhan menjelang Idul Fitri, umat pun bersemangat untuk mudik bertemu keluarga di kampung halaman untuk  saling bermaaf-maafan dengan pakaian dan hidangan makanan yang serba wah.
         Seperti itulah ritual tahunan umat Islam di Tanah Air. Ramadhan  memang penuh keajaiban, bisa mengubah suasana sekuler yang carut-marut menjadi suasana keimanan.  Tapi Sayang, keindahan ini ternyata hanya bertahan sesaat hilang tanpa kesan, disebelas bulan berikutnya akan kembali pada keadaan sebelumnya.

Benar Sabda Rasulullah Saw  “banyak orang menempatkan Ramadhan hanya sebagai kegiatan ibadah yang terpisah dari kehidupan”.  Mungkin nafsu makan minum saja yang hanya dikekang, tetapi berbagai bentuk kemaksiatan mungkin pula tetap dilakukan. Korupsi terus berjalan seolah tak bisa dihentikan, kriminalisasi makin tinggi, kerusakan selalu terjadi dalam segala aspek kehidupan, pergaulan, pendidikan, ekonomi , sosial dan budaya.

Bahkan berbagai fitnahan terhadap orang-orang yang berjuang menegakkan syariah Allah semakin gencar ditiupkan oleh musuh-musuh  Allah untuk menghalangi tegaknya kemuliaan islam dan kaummuslimin.  Sementara, dibelahan  bumi lain kaum muslim terus dibantai tanpa perikemanusiaan yang adil dan beradab, Tidak ada sedikitpun teriakan protes dan  penghentian oleh para penguasa Muslim lainnya. Mereka berlagak tuli dan bisu menyaksikan ceceran darah kaum muslim dalam derita tiada akhir.

         Sekularisme  telah berhasil  memperdaya umat ini  dalam menjalankan ibadah puasa,  seolah umat telah menundukkan diri kepada Allah padahal sebenarnya mereka tunduk pada hawa nafsu.  Bagaimana umat ini bisa dikatakan menghormati bulan puasa jika menjaga kemuliaannya hanya sebatas Ramadhan.  Bukankah tujuan puasa adalah untuk mendapatkan gelar Muttaqqin? Bukankah ketaatan kepada Allah seharusnya berlaku selama hayat dikandung badan, sepanjang menjalani kehidupan di dunia fana ini?

         Jika ‘buah’ dari puasa adalah takwa, tentu idealnya kaum Muslim menjadi orang-orang yang taat kepada Allah Swt tidak hanya di bulan Ramadhansaja, tidak hanya dalam tataran ritual dan individual semata. Seharusnya, juga terlihat di luar bulan Ramadhansepanjang tahun, dalam seluruh tataran kehidupan. Karena, Puasa adalah bagian dari serangkaian ketundukkan total kepada Allah Swt,  bukan sesuatu yang terpisah dari rangkaian ketaatan yang lain.

Memisahkan puasa dari hukum-hukum Allah SWT yang lain adalah sebuah perbuatan tercela. Layakkah kita bergembira saat Idul Fitri tiba, karena dosa akibat terabaikannya syariah Allah masih terus terjadi dan umat masih terus terjajah secara pemikiran, ideologi, politik, ekonomi dan sosial budaya? Sementara, para penguasanya terus menjadi alas kaki kaum Penjajah Barat.

         Bulan Ramadhan adalah bulan suci yang penuh dengan ladang amal shalih dan limpahan pahala yang tak terhingga dibanding bulan-bulan lainnya. Pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu. Allah SWT telah mencatat hamba-hamba-Nya yang akan dibebaskan dari api neraka.

Subhanallah, begitu indah dan berkahnya bulan suci ini. Meski demikian, tidak setiap orang menyadarinya dengan baik. Dari sekian orang yang sadar, hanya sedikit yang mampu mengisinya dengan baik pula dan  lebih sedikit lagi yang mampu menjaga semangat istiqamah sampai Ramadhan berakhir.

         Ramadhan terasa begitu cepat terlupakan. Dari tahun ke tahun, Ramadhan selalu kita tinggalkan tanpa perubahan, Begitulah, kita melihat Ramadhan sebagai syiar yang tercerabut dari hukum, sejarah dan memori kemuliaan yang melekat pada dirinya. Ini jelas merupakan upaya untuk membelokkan Islam agar menjadi agama yang tidak mempunyai pengaruh dalam kehidupan. Mencerabut Islam dari hukum-hukumnya, kesucian maknanya hingga rukun dan kewajiban yang terkait dengan jamaah, masyarakat, dan negara.

        Kewajiban menjalankan syari’ah Allah dalam rangka  menegakkan islam kaffah untuk melindungi umat, menjaga agama dan memakmurkan dunia dianggap ilusi dan mengancam NKRI. Makna jihad telah dibelokkan untuk perang melawan hawa nafsu. serta memicu rasa curiga dan adu domba diantara umat islam.

Sedangkan memerangi kaum Kafir yang jelas-jelas menyerang Islam dan kaum Muslim dicap sebagai aksi terorisme yang menyudutkan umat islam. Sementara tunduk pada Barat, justru dianggap sebagai sikap yang paling benar.

         Sejatinya, Ramadhan adalah bulan kemenangan dan pembebasan. Sejarah telah mencatat begitu banyak peristiwa perjuangan dibulan suci ini. Namun, bila di tangan umat yang telah mengalami kemunduran intelektual, bulan suci yang agung ini tentu telah berubah dari bulan Perang Badar (17 Ramadhan 2 H), Pembebasan kota Makkah (20 Ramadhan 8 H), Pembebasan Sind India (6 Ramadhan 92 H), Pembebasan Andalusia (1 Ramadhan 91 H), Pembebasan Shaqliyyah (9 Ramadhan 212 H), Pembaiatan Khalifah al-Qadir (11 Ramadhan 381 H), Perang ‘Ain Jalut (25 Ramadhan 658 H), Pembebasan Antiock (awal Ramadhan 666 H) dan bulan bekerja keras telah berubah menjadi bulan bermalas-malasan, liburan dan hiburan.

         Namun, Sejarah keagungan Ramadhan tidak mustahil akan terulang lagi, Ramadhan akan kembali menjadi mercusuar, yang mampu meleburkan makna persatuan dan menyatukan hubungan manusia dengan penciptanya. Bendera tauhid “ Lailaha Illa-Llah Muhammad Rasulullah” akan terus berkibar ke seluruh penjuru Daral-Islam. Dakwah akan terus tetap berjalan, meski berbagai rintangan, dan tantangan selalu menghadang. Sungguh, Kami benar-benar rindu menyaksikan kegemilangan sejarah Ramadhan dalam naungan Daulah Islam.

         Dalam Daulah Islam, bulan ramadhan ini tidak akan di isi hanya dengan menahan lapar dan haus, membaca Al Qur’an atau sholat tarawih saja. Umat Islam di seluruh penjuru dunia dan tentara-tentara Islam yang terlatih dari berbagai bangsa, ras dan warna kulit akan bergerak bersama mengisi ramadhan dengan salah satu amalan paling mulia “Jihad fi sabilillah” untuk membebaskan negeri-negeri Islam yang masih dijajah, tanpa bisa dihalangi oleh nasionalisme yang membelengu. Sebagaimana Rasulullah SAW memobilisasi umat Islam untuk berjihad dalam perang Badar dan Fathul Makkah. Ramadhan akan diisi dengan keringat dan darah yang tertumpah di medan perang, untuk membebaskan saudara-saudara kita yang masih tertindas oleh penjajah.

         Sejarah keagungan Ramadhan pasti akan terulang kembali, hingga tiap orang Mukmin akan meneteskan air mata karena Allah Swt  akan senantiasa diangungkan dengan sebenar-benarnya. Ramadhan akan kembali menjadi mercusuar, yang mampu meleburkan makna persatuan, dan mampu menyatukan hubungan manusia dengan penciptanya. Bendera tauhid, Lailaha Illa-Llah Muhammad Rasulullah akan berkibar ke seluruh penjuru alam. Sebab, dakwah kepada Allah tetap akan terus berjalan, meski berbagai rintangan, kesulitan dan tantangan selalu menghadang tanpa belas kasihan.                  
         Marilah kita jadikan bulan Ramadhan ini sebagai momentum bagi kita untuk kembali pada pangkuan Islam, makin taat syaria’t serta menjadikan akidah Islam dan hukum-hukumnya sebagai tali pengikat sesama Muslim. Tanpanya, kondisi kita akan tetap hina dina seperti saat ini. Wallahu’alam bi showab! [MO/ra]
loading...
loading...